Pages

Friday, 12 August 2016

Ungkapan kalimah thayyibah "Subhanallah" sering tertukar dengan ungkapan "Masya Allah"

Selama ini kaum Muslim sering “salah kaprah” dalam mengucapkan Subhanallah (Mahasuci Allah), tertukar dengan ungkapan Masya Allah (Itu terjadi atas kehendak Allah). Kalau kita takjub, kagum, atau mendengar hal baik dan melihat hal indah, biasanya kita mengatakan Subhanallah. Padahal, seharusnya kita mengucapkan Masya Allah yang bermakna “Hal itu terjadi atas kehendak Allah”. 

Ungkapan Subhanallah tepatnya digunakan untuk mengungkapkan “ketidaksetujuan atas sesuatu”. Misalnya, begitu mendengar ada keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan, kita katakan Subhanallah (Mahasuci Allah dari keburukan demikian).

Ucapan Masya Allah

Masya Allah artinya “Allah telah berkehendak akan hal itu”. Ungkapan kekaguman kepada Allah dan ciptaan-Nya yang indah lagi baik. Menyatakan “semua itu terjadi atas kehendak Allah”.

Masya Allah diucapkan bila seseorang melihat hal yang baik dan indah. Ekspresi penghargaan sekaligus pengingat bahwa semua itu bisa terjadi hanya karena kehendak-Nya.

“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, ‘Maasya Allah laa quwwata illa billah‘ (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan?” (QS. Al-Kahfi: 39).

Ucapan Subhanallah

Saat mendengar atau melihat hal buruk/jelek, ucapkan Subhanallah sebagai penegasan: “Allah Mahasuci dari keburukan tersebut”.

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Suatu hari aku berjunub dan aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berjalan bersama para sahabat, lalu aku menjauhi mereka dan pulang untuk mandi junub. Setelah itu aku datang menemui Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda: ‘Wahai Abu Hurairah, mengapakah engkau malah pergi ketika kami muncul?’ Aku menjawab: ‘Wahai Rasulullah, aku kotor (dalam keadaan junub) dan aku tidak nyaman untuk bertemu kalian dalam keadaan junub. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Subhanallah, sesungguhnya mukmin tidak najis.” (HR. Tirmizi)

“Sesungguhnya mukmin tidak najis” maksudnya, keadaan junub jangan menjadi halangan untuk bertemu sesama Muslim. Dalam Al-Quran, ungkapan Subhanallah digunakan dalam menyucikan Allah dari hal yang tak pantas (hal buruk), misalnya: “Mahasuci Allah dari mempunyai anak, dari apa yang mereka sifatkan, mereka persekutukan”, juga digunakan untuk mengungkapkan keberlepasan diri dari hal menjijikkan semacam syirik.” (QS. 40-41).

Jadi, kesimpulannya, ungkapan Subhanallah dianjurkan setiap kali seseorang melihat sesuatu yang tidak baik, bukan yang baik-baik atau keindahan. Dengan ucapan itu, kita menegaskan bahwa Allah Subahanahu wa Ta’ala Maha Suci dari semua keburukan tersebut.

Masya Allah diucapkan bila seseorang melihat yang indah, indah karena keindahan atas kuasa dan kehendak Allah Ta’ala. Lalu, apakah kita berdosa karena mengucapkan Subhanallah, padahal seharusnya Masya Allah dan sebaliknya? Insyaa Allah tidak. Allah Maha Mengerti maksud perkataan hamba-Nya. Hanya saja, setelah tahu, mari kita ungkapkan dengan tepat antara Subhanallah dan Masya Allah. Wallahu a’lam bish-shawabi.

(arrahmah.com)
http://dirikhalifah.blogspot.my/2016/08/ungkapan-kalimah-thayyibah-subhanallah.html

Sunday, 27 September 2015

THE HAJJ – THE JOURNEY

Below is a poem by Syaikh Ibnul Qayyim al Jauziyah that put the hajj into a beautiful narration.

THE HAJJ – THE JOURNEY

By Him whose House the loving pilgrims visit,
Responding with ihram at the appointed limit.
Uncovering their heads in total humility
Before One to Whom faces bow in servility.
They exclaim in the valleys, “We have responded to You –
All Praise is Yours, and Kingdom too!”
He invited and they answered, with love and pleasure;
When they called upon Him, nearer came the Divine treasure.
You see them on their mounts, hair dusty and dishevelled,
Yet never more content, never happier have they felt;
Leaving homelands and families due to holy yearning,
Unmoved are they by temptations of returning.
Through plains and valleys, from near and far,
Walking and riding, in submission to Allah.

kaabah-touching

AT THE KA’BAH

When they see His House – that magnificent sight
For which the hearts of all creatures are set alight –
It seems they’ve never felt tired before,
For their discomfort and hardship is no more.
Now the eye of the Lover drowns in its streams,
It sees through its tears the goal of its dreams;
Now for Allah, how many tears are issued,
Each one being followed by a multitude?
When the eye perceives the House, its darkness clears,
And from the sorrowful heart, pain disappears;
Vision cannot encompass this beautiful sight:
Each glance returns with greater delight!
No wonder at this, for when the Merciful preferred
The House for Himself, it became most honoured.
He clothed it in Majesty, a magnificent garment;
Embroidered it with Beauty, a wonderful ornament!
The hearts all love the House therefore,
Awed and humbled, in respect and honour.

Powerful Speech ┇ Importance of Salah ᴴᴰ ┇ by Sh Omar Elbana

Monday, 20 January 2014

Kehidupan Sehari-Hari Yang Islami

oleh Syaikh Abdullah bin Jaarullah bin Ibrahim Al-Jaarullah

Saudaraku....

Dengan penuh pengharapan bahwa  kebahagian dunia dan akhirat yang akan kita dapatkan, maka  kami sampaikan risalah  yang berisikan  pertanyaan-pertanyaan  ini  kehadapan anda untuk direnungkan dan di jawab dengan perbuatan.

Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja kami angkat kehadapan anda dengan harapan yang tulus dan cinta karena Allah سبحانه و تعالى, supaya  kita  bisa mengambil  mannfaat dan faedah yang banyak darinya, disamping itu sebagai bahan kajian untuk melihat diri kita, sudah sejauh mana dan ada dimana posisinya selama ini.

Apakah anda selalu shalat Fajar berjama'ah di masjid setiap hari .?

Apakah anda selalu menjaga Shalat yang lima waktu di masjid .?

Apakah anda hari ini membaca Al-Qur'an .?

Apakah anda rutin membaca Dzikir setelah selesai melaksanakan Shalat wajib .?

Apakah anda selalu menjaga Shalat sunnah Rawatib sebelum dan sesudah Shalat wajib .?

Apakah anda (hari ini) Khusyu dalam Shalat, menghayati apa yang anda baca .?

Apakah anda (hari ini) mengingat Mati dan Kubur .?

Apakah anda (hari ini) mengingat hari Kiamat, segala peristiwa dan kedahsyatannya .?

Apakah anda telah memohon kepada Allah سبحانه و تعالى sebanyak tiga kali, agar memasukkan anda ke dalam Surga .? Maka sesungguhnya barang siapa yang memohon demikian, Surga berkata :"Wahai Allah سبحانه و تعالى masukkanlah ia ke dalam Surga".

Apakah anda telah meminta perlindungan kepada Allah سبحانه و تعالى agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali .? Maka sesungguhnya barangsiapa yang berbuat demikian, neraka berkata :"Wahai Allah peliharalah dia dari api neraka". Berdasarkan hadits Rasulullah صلی الله عليه وسلم yang artinya :"Barangsiapa yang memohon Surga kepada Allah sebanyak tiga kali, Surga berkata :"Wahai Allah masukkanlah ia ke dalam Surga. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali, neraka berkata :"Wahai Allah selamatkanlah ia dari neraka". [Hadits Riwayat Tirmidzi dan di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami No. 911. Jilid 6]

Apakah anda (hari ini) membaca hadits Rasulullah صلی الله عليه وسلم .?

Apakah anda pernah berfikir untuk menjauhi teman-teman yang tidak baik .?

Apakah anda telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa dan bergurau .?

Apakah anda (hari ini) menangis karena takut kepada Allah سبحانه و تعالى .?

Apakah anda selalu membaca Dzikir pagi dan sore hari .?

Apakah anda (hari ini) telah memohon ampunan kepada Allah سبحانه و تعالى atas dosa-dosa (yang engkau perbuat -penterjemah) .?

Apakah anda telah memohon kepada Allah سبحانه و تعالى dengan benar untuk mati Syahid .? Karena sesungguhnya Rasulullah صلی الله عليه وسلم telah bersabda yang artinya :"Barangsiapa yang memohon kepada Allah سبحانه و تعالى dengan benar untuk mati syahid, maka Allah سبحانه و تعالى akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidur". [Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya]

Apakah anda telah berdo'a kepada Allah سبحانه و تعالى agar ia menetapkan hati anda atas agama-Nya. ?

Apakah anda telah mengambil kesempatan untuk berdo'a kepada Allah سبحانه و تعالى di waktu-waktu yang mustajab .?

Apakah anda telah membeli buku-buku agama Islam untuk memahami agama .? [Tentu dengan memilih buku-buku yang sesuai dengan pemahaman yang dipahami oleh para Shahabat Nabi صلی الله عليه وسلم, karena banyak juga buku-buku Islam yang tersebar di pasaran justru merusak pemahaman Islam yang benar.]

Apakah anda telah memintakan ampunan kepada Allah سبحانه و تعالى untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah .? Karena setiap mendo'akan mereka anda akan mendapat kebajikan pula.

Apakah anda telah memuji Allah سبحانه و تعالى (dan bersyukur kepada-Nya, pent) atas nikmat Islam .?

Apakah anda telah memuji Allah سبحانه و تعالى atas nikmat mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya .?

Apakah anda hari-hari ini telah bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya .?

Apakah anda dapat menahan marah yang disebabkan urusan pribadi, dan berusaha untuk marah karena Allah سبحانه و تعالى saja .?

Apakah anda telah menjauhi sikap sombong dan membanggakan diri sendiri .?

Apakah anda telah mengunjungi saudara seagama, ikhlas karena Allah سبحانه و تعالى .?

Apakah anda telah menda'wahi keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan siapa saja yang ada hubungannya dengan diri anda .?

Apakah anda termasuk orang yang berbakti kepada orang tua .?
Apakah anda mengucapkan "Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raji'uun" jika mendapatkan musibah .?

Apakah anda hari ini mengucapkan do'a ini : " Allahumma inii a'uudubika an usyrika bika wa anaa a'lamu wastagfiruka limaa la'alamu = Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan Engkau sedangkan aku mengetahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui". Barangsiapa yang mengucapkan yang demikian, Allah سبحانه و تعالى akan menghilangkan darinya syirik besar dan syirik kecil. [Lihat Shahih Al-Jami' No. 3625]

Apakah anda berbuat baik kepada tetangga .?

Apakah anda telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad, dan dengki .?

Apakah anda telah membersihkan lisan dari dusta, mengumpat, mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata-kata yang tidak ada manfaatnya .?

Apakah anda takut kepada Allah سبحانه و تعالى dalam hal penghasilan, makanan dan minuman, serta pakaian .?

Apakah anda selalu bertaubat kepada Allah سبحانه و تعالى dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan .?

Saudaraku ..

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan perbuatan, agar kita  menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat, insya Allah.


[Risalah ini dinukilkan dari buku saku Zaad Al-Muslim Al-Yaumi (Bekalan Muslim Sehari-hari) hal. 51 - 55, bab Hayatu Yaumi Islami yang diambil dari kitab Al-Wabil Ash-Shoyyib oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah, Penterjmeah Fariq Gasim Anuz] 

Sunday, 19 January 2014

DESCRIPTION OF PROPHET MOHAMMAD

Muhammad, peace be upon him, was a shy, reticent man who lived among his people with such high moral character they called him al-Amîn — the Trustworthy.

The Prophet’s unique physical appearance, his high character and willingness to sacrifice for others, are often at the essence of any description of him. According to the narrations from his Companions he can be described in the following words:

Muhammad was imposing and majestic. His face was luminous like a full moon.

He was taller than medium but not excessive in height. He had wavy hair, which he parted and it never went beyond his shoulders. He was light-skinned with a high brow. He had full eyebrows and a small space between them. His beard was full, his eyes black. His physique was supple and lithe, with a full chest and broad shoulders. When he walked, he was determined and his pace was as if he was walking down hill.

He was decisive and whole-hearted in everything he did, so intent on the task at hand that he never looked over his shoulder, even if his cloak got caught in a thorny bush.

When he spoke he was always brief and reflective. He spoke when he saw benefit and spent long periods in silent contemplation. His speech was comprehensive being neither wordy nor abrupt. He had a mild temperament and was never harsh nor cruel, coarse nor rude. He expressed gratitude for everything given to him no matter how insignificant. When he spoke, his companions lowered their heads as if birds were perched upon them. When he was silent, they felt free to speak. He never criticized food or praised it excessively. He never swore, nor did he find fault in people. He did not flatter people but praised them when appropriate.

When he did turn to speak to somebody, he used to swing his entire body around and address them full face. When he shook hands, he was never the first to withdraw his own.

People entered his gatherings as seekers and left enlightened. He would ask about his companions when they were absent often making inquiries about people’s needs. He never stood nor sat without mentioning the name of God. He never reserved a special place for himself in a gathering and sat where space was provided. He gave each of those who sat with him such full attention that everyone felt that he was the most important person in that gathering. Voices were never raised in his presence. The aged were respected for their age and the young were shown compassion for their youth.

His wives and Companions spoke of his humour and cheerfulness. He said once, “I joke but always tell the truth.”

His wife Aisha said, “he was always making us laugh in the house.” One of his names is ad-dahhak — the smiling one.

Once an old woman asked him if she would enter paradise and he replied, “Old people don’t go to heaven!” The woman was crestfallen with the answer he had provided, to which he added with a smile, “You shall enter paradise in the prime of your youth.”

And once a gruff desert Bedouin came into the mosque and prayed out loud saying, “O God forgive me and Muhammad and don’t forgive anyone else.” Hearing this the Prophet laughed and said to him, “You are limiting the vast mercy of God.”

He died on the same day he was born, in the same house he had lived in for ten years in Medina, on a small bed made of leather stuffed with palm fibres, in the arms of his beloved wife Aishah.

His dying words were, “Treat your women well, and do not oppress your servants, the prayer, the prayer, don’t be neglectful of the prayer. O God, my highest companion, O highest companion.”

Muhammad exemplifies the strong and profound relationship that each human being ought to have with his Creator, his fellow human beings, and the world around him. May Almighty God and His angels and all His creation bless him and greet him with the salutations of peace!

from http://prophetictimeline.com 

Sunday, 15 December 2013

Cuai kerana urusan dunia

Rasulullah SAW bersabda bermaksud:“Langit merintih dan memang ia patut merintih, kerana pada setiap tempat untuk berpijak terdapat malaikat yang bersujud atau berdiri (solat) kepada Allah Azzawajalla.” (Riwayat Tirmizi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Orang yang meninggalkan ibadah solat kerana cuai oleh urusan dunia akan malang nasibnya, berat seksaannya, rugi perdagangannya, besar musibahnya, dan panjang penyesalannya. Firman Allah SWT bermaksud: “Sesungguhnya solat itu adalah kewajipan yang ditentukan waktunya bagi orang yang beriman.” (An-Nisa : 103)

Abu Hurairah RA meriwayatkan: “Selepas Isyak aku bersama Umar bin Khattab ra pergi ke rumah Abu Bakar as-Siddiq untuk suatu keperluan. Sewaktu melalui pintu rumah Rasulullah SAW, kami mendengar suara rintihan. Kami pun berhenti sejenak. Kami dengar beliau menangis dan meratap: “Ah…andaikan saja aku dapat hidup terus untuk melihat apa yang diperbuat oleh umatku terhadap solat. Ah…aku sungguh menyesali umatku.” 

Rasulullah menangis
“Wahai Abu Hurairah, mari kita ketuk pintu ini,” kata Umar dan kemudian mengetuk pintu. “Siapa?” tanya Aisyah. “Aku bersama Abu Hurairah.” Kami meminta izin untuk masuk dan beliau mengizinkannya. Setelah masuk, kami lihat Rasulullah SAW sedang bersujud dan menangis sedih, beliau berkata dalam sujudnya: “Wahai Tuhanku, Engkau adalah pengawalku bagi umatku, maka perlakukanlah mereka sesuai dengan sifat-sifat-Mu dan jangan perlakukan mereka sesuai perbuatan mereka.”
“Ya Rasulullah, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu. Apa gerangan yang terjadi, mengapa engkau begitu sedih?”
“Wahai Umar, dalam perjalananku ke rumah Aisyah selepas mengerjakan solat di masjid, Jibril mendatangiku dan berkata: “Wahai Muhammad, Allah Yang Maha Benar mengucapkan salam kepadamu, kemudian ia berkata, bacalah.” “Apa yang harus kubaca?” “Bacalah firman Allah yang bermaksud: “Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang buruk) yang mensia-siakan solat dan menurutkan hawa nafsunya, mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam : 59).
“Wahai Jibril, apakah sepeninggalanku nanti umatku akan mencuaikan solat?”
“Benar, wahai Muhammad, kelak di akhir zaman akan datang sekelompok manusia daripada umatmu yang mencuaikan solat, mengakhirkan solat (hingga keluar dari waktunya), dan menurutkan hawa nafsu. Bagi mereka satu dinar lebih berharga daripada solat.” (Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar).
Abu Darda’ berkata: “Hamba Allah yang terbaik adalah yang memperhatikan matahari, bulan dan awan untuk berzikir kepada Allah, yakni untuk mengerjakan solat.” Diriwatkan pula bahawa amal yang pertama kali diperhatikan oleh Allah ialah solat. Jika solat seseorang cacat, maka semua amalnya akan ditolak.

Perintah ahli keluarga bersolat
Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Wahai Abu Hurairah, perintahkanlah keluargamu untuk solat, kerana Allah akan memberimu rezeki dari arah yang tidak pernah kamu duga.”

“Barang siapa meninggalkan solat dengan sengaja, maka ia telah kafir.” (Riwayat al-Bazzar dari Abu Darda’). Sabda Rasulullah SAW lagi bermaksud: “Barang siapa bertemu Allah sedang ia mencuaikan solat, maka Allah sama sekali tidak akan mempedulikannya.” (Riwayat Tabarani).

Sunday, 17 November 2013

MANUSIA BERHADAPAN DENGAN ENAM PERSIMPANGAN

Abu Bakar r.a. berkata, " Sesungguhnya iblis berdiri di depanmu, jiwa di sebelah kananmu, nafsu di sebelah kirimu, dunia di sebelah belakangmu dan semua anggota tubuhmu berada di sekitar tubuhmu. Sedangkan Allah di atasmu. Sementara iblis terkutuk mengajakmu meninggalkan agama, jiwa mengajakmu ke arah maksiat, nafsu mengajakmu memenuhi syahwat, dunia mengajakmu supaya memilihnya dari akhirat dan anggota tubuh menagajakmu melakukan dosa. Dan Tuhan mengajakmu masuk Syurga serta mendapat keampunan-Nya, sebagaimana firmannya yang bermaksud, "....Dan Allah mengajak ke Syurga serta menuju keampunan-Nya..."

Siapa yang memenuhi ajakan iblis, maka hilang agama dari dirinya. Sesiapa yang memenuhi ajakan jiwa, maka hilang darinya nilai nyawanya. Sesiapa yang memenuhi ajakan nafsunya, maka hilanglah akal dari dirinya. Siapa yang memenuhi ajakan dunia, maka hilang akhirat dari dirinya. Dan siapa yang memenuhi ajakan anggota tubuhnya, maka hilang syurga dari dirinya.

Dan siapa yang memenuhi ajakan Allah S.W.T., maka hilang dari dirinya semua kejahatan dan ia memperolehi semua kebaikan."

Iblis adalah musuh manusia, sementara manusia adalah sasaran iblis. Oleh itu, manusia hendaklah sentiasa berwaspada sebab iblis sentiasa melihat tepat pada sasarannya.

KISAH NAFSU YANG DEGIL PADA PERINTAH ALLAH

Dalam sebuah kitab karangan 'Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syaakir Alkhaubawiyi, seorang ulama yang hidup dalam abad ke XIII Hijrah, menerangkan bahwa sesungguhnya Allah S.W.T telah menciptakan akal, maka Allah S.W.T telah berfirman yang bermaksud : "Wahai akal mengadaplah engkau." Maka akal pun mengadap kehadapan Allah S.W.T., kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Wahai akal berbaliklah engkau!", lalu akal pun berbalik.

Kemudian Allah S.W.T. berfirman lagi yang bermaksud : "Wahai akal! Siapakah aku?". Lalu akal pun berkata, "Engkau adalah Tuhan yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu yang daif dan lemah."

Lalu Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Wahai akal tidak Ku-ciptakan makhluk yang lebih mulia daripada engkau."

Setelah itu Allah S.W.T menciptakan nafsu, dan berfirman kepadanya yang bermaksud : "Wahai nafsu, mengadaplah kamu!". Nafsu tidak menjawab sebaliknya mendiamkan diri. 

Kemudian Allah S.W.T berfirman lagi yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Lalu nafsu berkata, "Aku adalah aku, dan Engkau adalah Engkau."

Setelah itu Allah S.W.T menyiksanya dengan neraka jahim selama 100 tahun, dan kemudian mengeluarkannya. Kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Lalu nafsu berkata, "Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau."

Lalu Allah S.W.T menyiksa nafsu itu dalam neraka Juu' selama 100 tahun. Setelah dikeluarkan maka Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Akhirnya nafsu mengakui dengan berkata, " Aku adalah hamba-Mu dan Kamu adalah tuhanku."

Dalam kitab tersebut juga diterangkan bahwa dengan sebab itulah maka Allah S.W.T mewajibkan puasa.

Dalam kisah ini dapatlah kita mengetahui bahwa nafsu itu adalah sangat jahat oleh itu hendaklah kita mengawal nafsu itu, jangan biarkan nafsu itu mengawal kita, sebab kalau dia yang mengawal kita maka kita akan menjadi musnah.

TUJUH MACAM PAHALA YANG DAPAT DINIKMATINYA SELEPAS MATI

Dari Anas r.a. berkata bahwa ada tujuh macam pahala yang dapat diterima seseorang itu selepas matinya.

1. Sesiapa yang mendirikan masjid maka ia tetap pahalanya selagi masjid itu digunakan oleh orang untuk beramal ibadat di dalamnya.

2. Sesiapa yang mengalirkan air sungai selagi ada orang yang minum daripadanya.

3. Sesiapa yang menulis mushaf ia akan mendapat pahala selagi ada orang yang membacanya.

4. Orang yang menggali perigi selagi ada orang yang menggunakannya.

5. Sesiapa yang menanam tanam-tanaman selagi ada yang memakannya baik dari manusia atau burung.

6. Mereka yang mengajarkan ilmu yang berguna selama ia diamalkan oleh orang yang mempelajarinya.

7. Orang yang meninggalkan anak yang soleh yang mana ianya selalu mendoakan kedua orang tuanya dan beristighfar baginya

8. yakni anak yang selalu diajari ilmu Al-Qur'an maka orang yang mengajarnya akan mendapat pahala selagi anak itu mengamalkan ajaran-ajarannya tanpa mengurangi pahala anak itu sendiri.

Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah S.A.W. telah bersabda : "Apabila telah mati anak Adam itu, maka terhentilah amalnya melainkan tiga macam :

1. Sedekah yang berjalan terus (Sedekah Amal Jariah)

2. Ilmu yang berguna dan diamalkan.

3. Anak yang soleh yang mendoakan baik baginya.

Wallahualam.